Review

Sociotrip Kurbanesia 2018: Melihat Langsung Dompet Dhuafa Siapkan Hewan Kurban Berkualitas

kambing kurban

Hewan kurban berkualitas menjadi syarat mutlak Dompet Dhuafa dalam memilih hewan kurban. Untuk menjaga kualitas tersebut, Dompet Dhuafa ternyata memiliki program Indonesia berdaya yang bermitra dengan petani di pelosok daerah. Seperti apa sih cara Dompet Dhuafa siapkan hewan kurban yang berkualitas?

***

Beruntung saya bisa mendapatkan kesempatan berkunjung ke sentra ternak dan sentra tani yang menjadi salah satu program unggula Dompet Dhuafa dalam memberdayakan umat pada even Sociotrip 2018. Program Indonesia Berdaya di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang, Jawa Barat ini menurut Agung Karisma sudah memasuki tahun keempat.

Agung adalah pendamping Dompet Dhuafa bagi para mitra petani yang ikut turun tangan dalam pertanian dan peternakan sejak 2014 di Cirangkong, Subang, Jawa Barat.

Saya takjub melihat lahan seluas 10 hektar disulap menjadi perkebunan nanas, buah naga, pepaya dan jambu kristal di wilayah perbukitan. Bahkan sudah berdiri beberapa penginapan untuk mendukung agrowisata yang menjanjikan.

Saya datang bersama rombongan blogger dan media untuk menyaksikan bagaimana Dompet Dhuafa menyiapkan hewan kurban berkualitas serta proses quality control terhadap hewan kurban dilakukan sebelum disebarkan pada saat Idul Kurban.

Melewati kemacetan tol Cikampek yang padat membuat saya merasa lapar saat tiba di lokasi. Untunglah kami bisa langsung menikmati aneka sajian yang segar langsung dipetik dari kebun seperti puding buah naga, sate nanas dan buah naga serta makanan khas ala kampung yang bikin kangen.

Menurut Agung bahwa salah satu ikon kota Subang adalah buah nanas. Itulah mengapa salah satu yang dibudidayakan di tanah wakaf Dompet Dhuafa ini salah satunya adalah buah nanas. Setelah saya cicipi ternyata buah nanasnya manis. Sedangkan buah naganya memiliki rasa manis yang pas.

Kawasan lahan 10 hektar ini memang tidak sepenuhnya diperuntukkan untuk perkebunan tapi juga untuk pembibitan dan penggemukan pada sentra ternak yang juga menjadi salah satu program Indonesia Berdaya.

Mas Adi Kurniawan, Coorporate Secertary Dompet Dhuafa juga menjelaskan bahwa saat ini Dompet Dhuafa bekerja sama dengan 30 orang mitra peternak untuk menyiapkan hewan kurban yang berkualitas.

Nantinya hewan-hewan kurban dari Desa Cirangkong ini akan didistribusikan ke beberapa dhuafa yang sudah terdata pada saat Hari Raya Idul Kurban sudah dalam bentuk daging di dalam kemasan.

Dompet Dhuafa menyiapkan satu ekor domba untuk 15 sampai dengan 20 orang. Sementara jika sapi menurutnya bisa dibagikan pada 150 orang.

 

Akan tetapi di area Subang ini sementara hanya dibagikan daging domba. Pada saat saya datang, sudah ada sekitar 300 domba yang sudah dianggap lolos quality control sebagai hewan kurban berkualitas dengan bobot yang berbeda-beda.

Agung menjelaskan bahwa Dompet Dhuafa punya beberapa standar dalam pemilihan hewan kurban berkualitas

  1. Ukuran domba standar bobotnya antara 23-28 kilogram
  2. Ukuran domba premium bobotnya antara 29-35 kilogram
  3. Sudah mencapai nasabnya 1 tahun
  4. Jantan
  5. Sehat dan tidak cacat

Agung juga menjelaskan cara menentukan domba yang sehat dan tidak cacat. Semuanya bisa diketahui dari cici-ciri fisik.

 

Diantaranya domba bergerak dengan lincah, ujung hidungnya lembab atau berair tapi bukan berlendir, kaki-kaki kuat dan tidak pincang dan yang paling penting adalah melihat giginya. Domba yang sudah melewati masa nasabnya atau sudah berusia di atas satu tahun biasanya dilihat dari gigi susu yang sudah tanggal atau copot.

Secara kasat mata siapa pun yang sudah memahami ciri-ciri domba yang sehat bisa menentukan hewan kurban yang berkualitas. Hewan kurban berkualitas ini pun rutin diperiksa kesehatannya dari dinas kesehatan setempat.

 

Agung juga menceritakan pencapaian peternak yang didampinginya. Tahun pertama saat itu baru bisa memenuhi kuota sebanyak 30 ekor domba. Namun memasuki tahun keempat ini pencapaiannya meningkat hingga bisa memenuhi kuota 300 domba.

Proses pembibitan dan penggemukannya sendiri dilakukan dengan dua model Pertama dengan menggunakan kandang koloni di lahan Dompet Dhuafa yang kami kunjungi dan kandang rakyat.

Perbedaannya hanya terletak pada tempat saja. Sedangkan standar dan quality controlnya sama. Uniknya lagi domba yang sudah lolos quality control akan diberikan tanda pada tubuhnya.

  • Warna Merah – memenuhi ketentuan domba premium
  • Warna Biru – memenuhi ketentuan domba standar
  • Warna Hijau – belum memenuhi ketentuan

Menurut Agung, domba-domba yang belum memenuhi standar ini akan dijual di pasar atau dijual kepada warga yang membutuhkan. Sedangkan jika ada domba yang cacat akan dijual kepada pedagang yang menjual olahan daging domba seperti sate, gulai dan sebagainya. Jadi, semua domba benar-benar bermanfaat baik bagi mitra maupun bagi Dompet Dhuafa.

 

Salah satu mitra peternak, Bapak Amud (56) tahun bahkan mengajak saya untuk melihat kandang di rumahnya. Alasan mengapa peternak juga memilih kandang rakyat karena proses perawatannya lebih mudah tidak perlu bolak balik ke kandang koloni.

Menurut Agung, domba-domba di sentra ternak Dompet Dhuafa hanya mendapatkan porsi rumput sekitar 20% saja. Hal itu disebabkan sulitnya mendapatkan rumput segar. Namun, hal tersebut bukan menjadi kendala karena Dompet Dhuafa sudah menyiapkan pakan berupa olahan limbah kulit nanas, jerami, gerabah, dan sedikit urea. Semuanya digiling dengan menggunakan mesin yang outputnya berupa konsentrat.

 

Selain berbincang dengan bapak Amud, saya juga berbicang dengan bapak Sahrun (60 tahun), Yadi (45 tahun) dan Nurdin (35 tahun). Mereka adalah mitra peternak diantara 30 peternak lainnya.

Bapak Sahrun merasakan manfaatnya menjadi mitra Dompet Dhuafa. Begitu juga dengan bapak Yadi yang merasakan ekonominya meningkat dari hasil bermitra dengan Dompet Dhuafa.

 

Satria dari Dompet Dhuafa mengatakan bahwa kemitraan ini menguntungkan mitra peternak. Perekonomian peternak meningkat serta dana dari luar bisa masuk ke peternak. Secara tidak langsung juga ikut mempengaruhi pertumbuhan perekonomian desa.

Selain membagikan hewan kurban di daerah Subang, Dompet Dhuafa juga membangikan hewan kurban di beberapa daerah seperti di Rote, Maluku, Halmahera, Sumbawa, dan yang baru saja terkena musibah gempa bumi di Lombok.

Distribusi dilakukan dengan prioritas membagikan ke wilayah termiskin, tertinggal dan pelosok daerah terutama bagi kaum dhuafa yang belum pernah menikmati daging hewan kurban. Selain itu juga beberapa wilayah bencana seperti Lombok yang baru saja digoyang gempa bumi.

Bukan hanya di dalam negeri, program Tebar Hewan Kurban 2018 yang digawangi Dompet Dhuafa juga dilakukan hingga ke luar negeri seperti ke Palestina, Suriah dan untuk pengungsi Rohingnya.

 

Mereka yang berkurban melalui Dompet Dhuafa akan mendapatkan laporan kurban secara transparan berupa foto hewan kurbannya dari pemotongan hingga distribusi.

Yang lebih menarik lagi, cerita dari Agung bahwa kini mitra petani di Cirangkong Subang sudah memiliki badan hukum yang proyeksinya akan dikembangkan menjadi bahan usaha seperti koperasi sehingga nantinya akan memberikan bagi hasil kepada anggotanya.

Dengan demikian, program pemberdayaan umat Dompet Dhuafa bisa benar-benar membuat para mitra petani ini menjadi lebih mandiri dalam mengelola pertanian dan peternakan.

Berikut liputan lengkap Sociotrip Kurbanesia 2018 bersama Dompet Dhuafa di Subang, Jawa Barat

8 comments
  1. Awan

    Kreatif bangat ya Mas, limbah kulit nanas ternyata bisa dioleh menjadi pakan ternak, saya nggak kepikiran sama sekali kulit nanas yang kaya begitu itu bisa jadi pakan ternak. Tapi bagus juga sih, jadi kulit nanas yang melimpah di Subang bermanfaat dengan baik.

  2. uci

    saya semakin yakin , donasi yang kita salurkan melalui Dompet Dhuafa akan sangat bermanfaat. Dan saya senang karena laporan kurban kita di DD sangat transparan, dimana laporannya dikirim via email dan surat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *