Ini 5 Tren Dessert 2019, Apa Saja?

By | February 12, 2019

Sama seperti fashion yang selalu memberikan tren terbaru setiap tahun, makanan pun juga demikian. Jika beberapa sumber menyebut tren makanan tahun 2019 lebih kepada jenis makanan tanpa daging.

Namun, soal dessert tampaknya sulit untuk jauh-jauh dari makanan dengan kandungan gula berlimpah.

Berikut tren makanan pencuci mulut atau dessert yang digadang-gadang bakal tren sepanjang tahun 2019 ini.

Martabak manis

Martabak manis memang telah jadi cemilan yang bisa dibilang paling sering disantap karena mudah ditemui di ruas-ruas jalan di manapun di Indonesia.

Dari tipe gerobakan sampai bentuk kedai modern, pengusaha Martabak manis pun terus bertumbuh. Salah satu pelopor kedai martabak kekinian, Martabak Boss, terus menambah gerai baru.

Belum lagi dengan jaringan martabak Orins yang semakin banyak dan buka 24 jam non-stop.

Secara rasa, martabak akan tampil sama dengan pilihan filling yang sempat meramaikan pasar, seperti Martabak Nutella, Ovomaltine, Oreo, permen M&M, wafer cokelat, cereal Fruity Loops, hingga Toblerone.

Walau begitu, pada tahun 2019 ini, perpaduan martabak manis dengan filling gelato disebut-sebut bakal kembali tren. Hmm, seperti apa ya rasanya?

Donat

Setelah berkreasi dengan filling pada martabak, kini saatnya berkreasi dengan topping. Yes, itu paling bisa diaplikasikan pada donat yang juga bakal jadi tren dessert tahun ini.

Jika dulu, toko donat hanya didominasi oleh Dunkin dan J.CO, kini kian bermunculan gerai donat baru yang berawal dari industri rumahan.

Misalnya saja Dough Darling asal Bali yang kini sudah bisa ditemui kedainya di Lippo Mall Puri Jakarta.

Ada juga kedai kopi di Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan, LaLa yang menjadikan donat sebagai unique selling point-nya. Beberapa coffee shop pun juga sudah banyak menawarkan donat sebagai cemilan utamanya.

Nah, topping yang menarik selalu menjadi senjata para merek donat-donat baru ini. Agar tidak kalah bersaing dengan jaringan gerai donat, topping yang unik mampu menarik perhatian pelanggan, seperti potongan buah-buahan, berry, wafer, hingga telur.

Es krim

es krim

Es krim tetap menjadi hidangan pencuci mulut paling masyhur sepanjang sejarah. Bahkan ia tak lagi dipengaruhi musim. Artinya, orang tetap mengkonsumsinya di kala musim dingin sekalipun.

Ini terjadi karena semakin banyak kreasi es krim yang unik. Jika tahun lalu, es krim unicorn sempat booming.

Kini, tahun 2019, rasa es krim akan lebih autentik dengan cita rasa tertentu. Misalnya, es krim rasa alpukat, hummus, tahini, dan kelapa. Vegan ice cream juga akan tren tahun ini!

Fruity chocolate

fruit chocolate

Alias coklat buah. Maksudnya, coklat dengan rasa-rasa dan warna yang diambil dari ekstrak buah-buahan. Ini menandakan bahwa kategori cokelat lebih dari sekadar dark, white, dan milk.

Produsen coklat premium asal Prancis, Valrhona, memperkenalkan lini coklat buah ini, yang dibuat dengan bahan-bahan seperti markisa dan stroberi tetapi masih tetap dengan tekstur coklat.

Begitu pun dengan produsen kakao Eropa Barry Callebaut, yang merilis “cokelat ruby” berwarna merah muda yang dibuat dari kacang merah ruby.

Banana Cake

banana cakes

Bolu pisang kembali mengambil momentum tahun 2019. Ini mungkin diilhami oleh tren dessert sehat yang mengimplementasikan buah ketimbang sumber makanan lain. Setidaknya, banana flavours akan menerima demand yang tinggi tahun ini.

Contohnya saja, Bali Banana sukses mencuri perhatian dengan menjadi alternatif oleh-oleh khas Bali di kala semua orang terpaku pada entah kacang bali atau kue pai.

Kurang lebih itulah tren dessert tahun 2019 yang saya himpun dari berbagai sumber. Namun, yang perlu diingat, meski dessert rasanya manis, namun bisa jadi kenangannya tak semanis rasanya.

Soalnya, beberapa rekan saya yang usianya masih di bawah 40 tahun sudah terkena penyakit mematikan namun tidak menular, alias diabetes. Mereka mengaku memang sering mengkonsumsi makanan manis.

Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa semua nama-nama dessert di atas jika dihitung berapa kadar gulanya, bisa membuat kalian mengernyitkan dahi. Hehe. Misalnya donat.

Dua buah donat coklat saja bisa mengandung 2 sendok gula. Terlihat sedikit?

Eits, Tunggu dulu. Jika dibandingkan dengan konsumsi ideal gula harian menurut Kemenkes, dua donat sudah sudah mengambil porsi 50 persen dari kebutuhan gula harian yang sekitar 4 sendok makan (atau 50 gram).

Bayangkan, bagaimana kita biasa makan tiga bahkan setengah lusin donat? Itu belum lagi dengan tambahan kopi dan karbohidrat lain yang kita makan dalam sehari.

Hmm, sudah tahu kan berapa banyak gula yang kita konsumsi?

Untungnya, saya punya semacam “katalisator” jika memang lagi kalap makan yang manis-manis.

Produk ini sebenarnya pemberian teman saya yang sudah mengidap diabetes.

Namanya, TORASAN yang produknya bisa di-order di Tokopedia sih. Jadi, produk ini adalah suplemen makanan yang terbuat dari kayu manis, lemon, dan jahe.

Rasanya cukup melegakan dan gak begitu kental di mulut. Jadi, teman saya yang diabetes itu mengaku gula darahnya menurun setelah mengkonsumsi rutin produk TORASAN ini.

Saya pun yang alhamdulillah belum kena Diabetes, juga rajin konsumsi TORASAN sebagai bentuk pencegahan saja.

Bagusnya, badan langsung segar sih karena fungsi Torasan juga untuk daya tahan tubuh.

So, kembali lagi. Life is sweet with dessert, but in the end, it’s not a sweet story.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.